Politik

Nikki Haley: Pindahnya Kedubes AS Ke Yerusalem Tidak Ada Kaitannya Dengan Palestina

Nikki Haley: Pindahnya Kedubes AS Ke Yerusalem Tidak Ada Kaitannya Dengan Palestina - newslyfe.com

Duta besar AS, Nikki Haley, menuduh DK PBB bersikap tak adil pada Israel. Sementara itu berbanding terbalik dengan AS, negara lainnya memilih untuk bersatu mengecam kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, kerusuhan terjadi hampir di seluruh wilayah Palestina usai Amerika mengumumkan akan merelokasi kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Amerika Serikat turut menyesalkan hilangnya nyawa rakyat Palestina. Tetapi faktanya, memang kekerasan sering kali terjadi di wilayah tersebut. Sangat disayangkan, seluruh pihak yang berada di ruangan ini selalu bersikap berat sebelah,” ujar Nikki Haley pada DK PBB.

Kemudian Haley mengatakan keputusan AS pada bulan Desember yang ingin merelokasi kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem sama sekali tak mengganggu proses perdamaian antara Palestina dan Israel.

Menurutnya, mereka yang menyangkut pautkan keputusan ini dengan kekerasan yang menimpa rakyat Palestina sangatlah keliru.

Lebih lanjut mengenai kematian 60 warga Palestina dalam kerusuhan yang terjadi sebelumnya, Haley justru menyalahkannya pada Hamas.

Haley berpendapat, Hamas menghasut warga Palestina untuk menyerang perbatasan Gaza-Israel. Akibatnya, sebanyak 2.700 warga Palestina terluka dalam konfrontasi dengan pasukan Israel.

“Di ruangan ini, tak ada negara lain yang kuat menahan diri seperti yang telah dilakukan Israel selama ini,” Gubernur South California menambahkan.

Usai mendengarkan seluruh pidato dari duta besar negara lain dan tiba waktunya pembacaan pidato oleh duta besar Palestina, Haley memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan.

Mengejutkan Dan Mengerikan

Dalam pertemuan DK PBB ini, pidato Haley nampak sangat kontras dengan pidato duta besar lainnya yang hadir dalam ruangan.

Duta besar Inggris untuk PBB, Karen Pierce, menyebut kekerasan di Palestina yang menyebabkan kematian warga tiap harinya merupakan fenomena mengejutkan sekaligus mengerikan.

Dirinya beranggapan bahwa penggunaan senjata api oleh pasukan Israel (IDF) terhadap warga Palestina tidak bisa dibenarkan.

“Kami harap Israel bisa lebih menahan diri dan bertindak sesuai hukum internasional. Selain itu, kami meminta Israel untuk berhenti menggunakan kekuatan berlebih terhadap rakyat Palestina,” ujar Pierce.

Pidato serupa juga disampaikan duta besar negara lainnya meliputi Prancis, Swedia dan Belanda.

Sementara itu, dalam pidatonya, wakil deputi Rusia, Dmitry Polyansky memiliki pandangan yang lebih luas.

Menurutnya, proses perdamaian yang tersendat selama empat tahun ini telah dimanfaatkan oleh pihak lain untuk memenuhi kepentingannya sendiri, yang pada akhirnya justru menghasilkan “kekerasan yang terus berulang.”

Polyansky kemudian kembali menekankan bahwa Rusia yang memiliki hubungan baik dengan Palestina dan Israel, siap menjadi pihak penengah dalam konferensi perdamaian selanjutnya.

Secara tak diduga, pidato paling menohok datang dari duta besar Bolivia, Sascha Llorenti, yang mulai membacakan nama korban meninggal warga Palestina sebelum mengkritik penjajahan Israel yang didukung AS di tanah Palestina.

“Amerika Serikat lah yang menjadi halangan dalam proses perdamaian ini, Amerika Serikat lah yang jadi sumber masalahnya, bukan bagian dari solusinya,” ujar Llorenti.

Sumber: RT

Tinggalkan komentar