Ekonomi

BI Menaikkan Acuan Suku Bunga Untuk Memperkuat Nilai Rupiah

BI Menaikkan Acuan Suku Bunga Untuk Memperkuat Nilai Rupiah - newslyfe.com

JAKARTA (Kantor Berita Reuters). Bank pusat Indonesia pada hari Kamis kemarin, pertama kalinya sejak bulan November 2014, menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan nilai rupiah yang kian melemah.

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen.

Sedangkan pada tahun 2016 dan 2017, BI memotong suku bunga acuan sebesar 200 bps untuk mencoba memacu daya pinjam dan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan kantor berita Reuters, 13 dari 21 ekonom, sebelumnya telah memperkirakan tingkat suku bunga yang diumumkan pada pertemuan hari Kamis kemarin.

Pertemuan ini juga merupakan pertemuan terakhir menjelang masa kepemimpinan Gubernur BI saat ini, Agus Martowardojo.

Sang gubernur yang pada akhir bulan ini akan digantikan oleh Perry Warjiyo mengatakan kenaikan ini sebagai tanggapan terhadap meningkatnya pasar keuangan global.

Terlebih lagi, saat ini likuiditas dolar AS menjadi jauh lebih ketat.

“BI akan terus memantau perkembangan ekonomi saat ini dan siap mengambil tindakan lebih tegas untuk memastikan stabilitas ekonomi negara,” ujar Martowardojo

Sebulan sejak pertemuan terakhir BI yang diadakan tanggal 19 April, tindakan menaikkan suku bunga semacam ini sebenarnya dianggap berlebihan dan kontraproduktif.

Namun pada akhirnya setelah mendapat persetujuan umum, BI dengan sigap berbalik menaikkan suku bunga acuan.

Melihat kondisi perekonomian Indonesia sekarang, tindakan semacam ini memang diperlukan guna meningkatkan nilai rupiah yang kian melemah.

Sejauh ini, Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang terkena dampak ekonomi terparah akibat meningkatnya suku bunga AS dan melambungnya harga minyak dunia.

Sementara itu, dalam empat bulan terakhir nilai rupiah anjlok hingga lebih dari 5 persen menjadi 14.000 rupiah per 1 dolarnya.

Penyebabnya adalah imbal hasil obligasi Indonesia yang melonjak lebih dari satu persen dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

Selain itu pasar saham JKSE juga turun sebesar 8 persen dalam tahun ini.

Dalam pertemuan pada hari Kamis kemarin, BI mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2018 di angka 5,1 sampai 5,5 persen. Sementara angka inflasi tahunan akan tetap dalam kisaran target 2,5-4,5 persen.

Sumber: Reuters

Tinggalkan komentar