Dunia

Prancis Berniat Menyerang Kembali Setelah 100 Rudal Diluncurkan Terhadap Suriah

Prancis Berniat Menyerang Kembali Setelah 100 Rudal Diluncurkan Terhadap Suriah - newslyfe.com

Amerika Serikat, Inggris dan Prancis telah melancarkan serangan udara terhadap Suriah pada tanggal 14 April lalu. Aksi ini dilakukan usai Prancis dan sekutunya menerima berbagai laporan dugaan serangan senjata kimia di kota Douma, yang dilakukan pemerintah Damaskus.

Prancis akan menyerang Suriah untuk kali kedua, jika pihaknya kembali menerima laporan serangan baru menggunakan senjata kimia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Prancis Florence Parley di siaran radio RTL.

“Tujuan serangannya untuk mencegah Presiden Suriah kembali mengulangi aksinya. Namun jika terjadi lagi, kami tak segan melancarkan serangan kedua,” ujar Parley.

Sebelumnya, Amerika Serikat, Inggris dan Prancis telah melancarkan lebih dari 100 rudal terhadap Suriah.

Serangan ini sendiri diklaim ketiga negara sebagai tanggapan atas dugaan serangan kimia yang terjadi di kota Douma, Suriah pada tanggal 7 April lalu.

Pemerintah Suriah sendiri telah berulang kali menyangkal tuduhan AS dan sekutunya. Mereka mengatakan serangan kima tersebut tak pernah terjadi. Tak lupa mereka turut mengecam aksi serangan udara yang dilancarkan AS dan sekutunya tersebut.

Sementara itu, menyinggung serangan udara yang dilancarkan AS dan sekutunya, Menteri Pertahanan Rusia mengatakan ada 103 rudal jelajah yang diluncurkan dalam serangan tersebut.

Beruntungnya, sebanyak 71 dari total 103 rudal berhasil dilumpuhkan sistem pertahanan udara Suriah.

Geram dengan tuduhan tak berdasar AS dan sekutunya terhadap Suriah, Moskow meminta OPCW untuk melakukan penyelidikan dugaan serangan kimia di kota Douma.

Selain itu, untuk membuktikan tuduhan AS yang tak berdasar pihak Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah telah mengirimkan sejumlah perwakilannya ke lokasi kejadian.

Di sana, mereka menanyakan beberapa dokter yang sedang bertugas perihal kesimpangsiuran serangan ini.

Yang mengagetkan, ternyata para dokter mengklaim mereka tak pernah menerima pasien dengan gejala keracunan bahan kimia.

Tak hanya Rusia yang kerap mengecam serangan AS dan sekutunya terhadap Suriah, nyatanya banyak negara lain juga ikut mengecam aksi keji ini.

Bahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin tak ragu menyebut serangan ini sebagai sebuah “aksi agresi menentang kedaulatan negara yang sedang berjuang memerangi terorisme.”

Sumber: Sputnik

Tinggalkan komentar