Dunia

Iran Mengatakan Israel Harus Diadili Sebagai Penjahat Perang

Iran Mengatakan Israel Harus Diadili Sebagai Penjahat Perang - newslyfe.com

MOSKOW (Kantor Berita Sputnik) Menteri Luar Negeri Iran mengecam tindakan yang dilakukan otoritas Israel hari Selasa lalu pada pendemo Palestina di Jalur Gaza. Lebih lanjut, Iran meminta masalah ini  diselidiki di Pengadilan Kriminal Internasipnal (ICC).

Juru bicara sang menteri, Bahram Qassemi menyebut tragedi yang terjadi di Gaza tersebut sebagai “pembantaian massal rakyat Palestina” sekaligus “pembantaian brutal yang tak pernah terjadi sebelumnya”.

Menurutnya, para pendemo di Jalur Gaza melaksanakan demonstrasi secara damai.

“Dia (Qassemi) meminta seluruh organisasi internasional dan regional tanpa ragu menindak Israel atas kejahatan yang telah dilakukan rezimnya. Selan itu, dirinya juga meminta Pengadilan Kriminal Internasional mengadili Israel sebagai penjahat perang,” bunyi pernyataan sang menteri.

Menanggapi seluruh pernyataan ini, dalam konferensi pers hari Selasa, duta besar Israel untuk PBB Danny Danon justru menuduh Israel mendukung aksi demonstrasi yang disertai kekerasan di Jalur Gaza.

“Saya bisa katakan bahwa Iran mendukung kekerasan yang terjadi di Jalur Gaza,” Danon mengatakan pada para wartawan.

Lebih lanjut Danon mengatakan kalau Israel memiliki bukti yang menunjukkan keterlibatan Iran dalam pendanaan kegiatan kelompok Hamas. Bukti tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara kelompok Hamas dan Hisbullah.

Demonstrasi Rakyat Palestina

Perlu diketahui, seluruh pernyataan yang dilontarkan Iran muncul usai rakyat Palestina yang sedang menggelar demo di jalur Gaza hari Senin lalu terlibat bentrokan dengan tentara Israel.

Demonstrasi tersebut digelar tepat di hari kemerdekaan Israel yang ke 70 sekaligus hari di mana kedubes AS dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dari pihak militer Israel melaporkan ada lebih dari 35.000 peserta yang terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di 12 sektor perbatasan.

Menurut militer Israel, para pendemo melibatkan penggunaan alat peledak dan bom Molotov dalam aksinya. Selain itu, pendemo juga membakar ban dan mencoba mendobrak pembatas yang dipasang.

Kejadian ini mendorong tentara Israel menembak para pendemo sebagai solusi satu-satunya, klaim militer Israel.

Sementara itu data terbaru dari Menteri Kesehatan Gaza menunjukkan setidaknya 61 pendemo Palestina terbunuh dalam bentrokan ini, dan 2.700 pendemo mengalami luka-luka.

Usai kejadian ini, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan negara berkabung selama tiga hari.

Lebih lanjut, situasi di Jalur Gaza akan didiskusikan oleh Dewan Keamanan PBB.

Sebagai informasi, pada tanggal 30 Maret lalu rakyat Palestina melancarkan aksi protes dekat perbatasam Jalur Gaza yang disebut dengan The Great March of Return.

Protes ini menuntut agar seluruh pengungsi diizinkan kembali ke rumah mereka, yang saat ini wilayahnya telah dikuasai Israel.

Sedangkan, hari Selasa kemarin menandai 70 tahun pengusiran massal warga Palestina dari kampung halamannya sekaligus memperingati kemerdekaan Israel yang dideklarasikan pada tahun 1948.

Sumber: Sputnik

Tinggalkan komentar